Is this you? As a journalist, you can create a free Muck Rack account to customize your profile, list your contact preferences, and upload a portfolio of your best work.
Claim your profile
Articles by Tri Handoyo
Rudal dan Sayur Lodeh
Tri Handoyo Di bawah pohon asem rindang di tengah ladang yang tak lagi gersang. Punakawan asyik istirahat sambil bakar ubi. Sambil kipas-kipas pakai daun jati, Gareng bertanya, "Truk, Gong.., denger berita nggak? Di luar negeri sana lagi rame omongan soal perang dunia ke-3. Katanya mau perang nuklir!" Sambil garuk-garuk kepala, Petruk menyahut, "Halah Reng, kagetmu telat. Dunia memang lagi kumat sintingnya. Bedanya sekarang perangnya gak pake keris, tapi pake pencet tombol.
Ijazah Abrakadabra
Tri Handoyo Punakawan sedang berkumpul di bawah pohon asem yang rindang, di tengah ladang yang tak lagi gersang. Bagong, si ceplas-ceplos dan tukang makan. Sambil kipas-kipas pakai kertas, ia bilang, "Aku sudah jadi doktor. Sekarang orang akan memanggilku Doktor Bagong!" Gareng, si paling teliti tapi sering apes, tersenyum geli. "Walah, Gong! Sejak kapan kamu kuliah? Bangun tidur aja jam sepuluh siang, kok gelarnya doktor." "Lho, zaman sekarang kan gampang.
Perjanjian Mi Instan
Tri Handoyo Di tengah 'gencatan senjata tidak resmi', dua prajurit yang sama-sama sedang bertugas menjaga pintu perbatasan menjadi akrab. Gencatan senjata terjadi karena alasan demi menyambut perayaan tahun baru, Bams, si optimis yang kurang riset, adalah tentara Israel, dan Sin, si realistis yang sudah kelelahan, adalah tentara Palestina. Sambil mengeluarkan butiran pasir dari sepatu, Sin bertanya dari balik pagar kawat, "Bams, kamu punya korek?" Bams merogoh saku. "Punya.
Ghibah Global
Para pemimpin dunia, atas inisiatif Indonesia, membuat grup WhatsApp. Belakangan notifikasinya bunyi terus setiap detik, gara-gara situasi global yang memanas. Adminnya memang beberapa negara yang memiliki hak veto, kecuali Indonesia, yang ditunjuk karena negara non blok. Admin Amerika telah menambahkan Iran. Admin China telah menambahkan Israel. Amerika mengetik, "Guys, tolong ya.
Paket Premium Masuk Surga
Inilah babak terakhir dari petualangan Doktor Panci. Ternyata, kegagalan sebagai pakar teleportasi di kota besar justru membawanya menuju 'kejayaan' di tempat yang tidak terduga. Ustadz Panci, kini mengenakan jas lab khas ilmuwan, tapi dipadukan dengan sarung dan sorban, tentu demi terlihat lebih 'spiritualis'. Bukan spiritualitil ya. Sipon, sebagai jurnalis untuk liputan 'dunia lain', datang untuk mewawancarai sang ustadz.
Katak Dalam Tempurung
Di ruang HRD sebuah perusahaan startup. Pak Tompel sedang memeriksa berkas milik salah seorang pelamar. Ia tampak mengerutkan kening, sambil mengusap-usap tahi lalat besar di sudut bibir. Katanya, "Mbak Fifa, saya sudah periksa CV Anda. Pengalaman kerja di radio oke, tapi saya agak bingung sama ijazah Anda ini.
Pendekar Sejati
Aroma kayu jati menyeruak memenuhi atmosfir ruang pribadi sang mantan presiden. Hembusan angin merayap menembus kelambu jendela, mengirim kesejukan petang sehabis hujan. Sambil menuang teh melati hangat ke cangkir, ia bertanya datar, "Ada info baru, Mas Yakup?" Yakup, sang pengacara muda yang tangguh, mengangguk tegas. Sambil membuka map ia menjawab, "Semua narasi serangan 'ijazah palsu' selama bertahun-tahun, dan soal pendanaan, bermuara pada satu titik.
Pakar Hukum Dagelan
Tri Handoyo "Terdapat asas hukum yg penting, yang berbunyi "Actori Incumbit Probatio", urai Romo Semar seraya menjentikan abu rokok kretek di atas asbak. "Artinya?" serbu Gareng, Petruk dan Bagong, serentak. "Artinya beban pembuktian ada pada pihak yang mengajukan tuduhan, bukan pada pihak yang dituduh." "Wah menarik. Lanjut, Mo!" pinta ketiga anak Semar dengan mimik muka antusias. "Ini sesuai dengan hukum acara perdata pasal 163 HIR dan pidana asas praduga tak bersalah.
Teror Kotor Provokator
Tri Handoyo Semar melemparkan pandangan jauh ke gunung yang terselimuti awan. Bagian puncaknya terlihat samar. "Bagaimana pandangan romo mengenai teror 'Kepala Babi' kepada jurnalis?" ujar Gareng di sela-sela mengunyah kacang goreng.
Karena Susu Setitik, Rusak Nila Sebelanga
Tri Handoyo Di sebuah kerajaan yang mengaku berdasarkan ketuhanan yang maha esa, tapi tidak sedikit penduduknya yang justru menunjukan perilaku yang lebih mirip orang tidak bertuhan. Yang nampak telanjang dipermukaan adalah kemunafikan. Misal, setiap ada kebijakan dari pemerintah, pihak yang kalah dan sakit hati, akan langsung menggiring opini dengan narasi berdasarkan prasangka jahat.
Faktamorgana OCCRP
Tri Handoyo Sore yang sedikit mendung. Cukup gerah. Seperti biasa, para pelanggan warung Cak Otok tampak asyik berbincang santai sambil menikmati kopi dan berbagai gorengan. Yang unik, belakangan para pelanggan mulai ikut-ikutan terbelah. Menjadi dua kubu yang selalu bertolak belakang dalam menyikapi segala sesuatu. "Sekarang sudah jelas bahwa Mulyono adalah seorang koruptor besar," celetuk Ki Sumbing.
Penjual Gorengan
Oleh: Tri Handoyo Siapakah pihak yang paling tidak suka melihat orang bertaubat? Siapakah yang paling benci melihat seseorang mengakui dan menyesali kesalahannya? Jawabannya adalah setan. Ya betul. Setan bahkan menghasut orang-orang agar merasa hebat dan terhormat apabila turut menghina dan merendahkan si pendosa. Setan tentu berupaya mati-matian agar orang yang bersalah itu tetap dalam kehinaan dan kegelapan.
Ikrar Sang Pendekar (114): Sebuah Pembalasan
Oleh: Tri Handoyo Seperti biasanya, Kanjeng Wotwesi tampak seolah-olah memotivasi Kencanawati untuk kerja keras membesarkan usaha. Sebagai kosekuensinya, penambahan modal adalah kewajiban. Sesuai perjanjian kedua belah pihak, mereka harus Kembali melakukan setor modal. Kanjeng Wotwesi menemui Kencana di taman. "Kakek punya rencana untuk memperbesar usaha. Kali ini kita perlu modal seribu kilogram emas.
Ikrar sang Pendekar (113): Nikah Tanpa Cinta
Oleh: Tri Handoyo Sebagai pemimpin Padepokan Benteng Nusa, Lintang Kejora tidak luput dari fitnah orang-orang yang selama ini menyimpan dengki. Salah satu fitnah favorit yang mereka ulang-ulang adalah bahwa kekayaan Benteng Nusa berasal dari harta peninggalan Majapahit yang dicuri Panglima Kelabang Karang. Malangnya, panglima itu tewas sehingga Benteng Nusalah yang akhirnya menikmati hasil jarahan haram itu.
Ikrar Sang Pendekar (111): Bisnis Jimat
Oleh: Tri Handoyo Salah seorang adik Eyang Semi, Raden Renggo, yang menjadi pertapa di puncak Argopuro, di pagi buta tiba-tiba turun gunung. Ia berniat mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres mengenai hubungan kakaknya dengan Kanjeng Wotwesi. "Maaf, Mbakyu!" ucap Raden Renggo, "Apa keputusan untuk menikah dengan Kanjeng Wotwesi sudah dipikirkan dengan matang? Dia itu orang jahat!" Eyang Semi tersentak kaget mendengarnya.
Ikrar Sang Pendekar (110): Pamer Kedigdayaan
Oleh: Tri Handoyo Aksi Kanjeng Wotwesi bisa terus memangsa banyak korban, tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia berhasil membuat orang terbius oleh citra spiritualis agamis yang dia bangun. Citra sebagai seorang ahli ceramah, banyak menyumbang untuk pembangunan tempat ibadah, dan berjiwa sosial tinggi. Setidaknya itu yang diyakini sebagian besar orang. Ditambah citra sebagai seorang pengusaha yang cerdas dalam mengelola bisnisnya, yang sukses dalam urusan dunia sekaligus urusan akhirat.
Ikrar Sang Pendekar (109): Menyesal Telah Berbuat Baik
Oleh: Tri Handoyo Ki Menak Songkok mengumpulkan keluarga besarnya, adik-adik, paman dan sepupu serta orang-orang yang selama ini ikut berjuang membesarkan Gajah Unggul. Para wanita berkumpul di tempat terpisah, tapi ada pintu lebar yang menghubungkan kedua ruang itu, sehingga mereka masih bisa menyimak apapun pembicaraan di ruang utama. "Aku merasa bersalah kepada romo!" ucap Ki Songkok dengan nada penuh penyesalan. "Kesalahan terbesarku adalah karena sangat mengaggumi Kanjeng Wotwesi.
Ikrar Sang Pendekar (108): Surga Dunia
Oleh: Tri Handoyo Tujuh puluh lima persen lebih kekayaan Kanjeng Wotwesi dan Intijiwonya sebetulnya adalah dari hasil 'merampas'. Semua perusahaan besar tak akan luput dari radar pemantauan. Kini giliran 'Gajah Unggul' yang sedang dibidik. Gajah Unggul adalah bisnis rintisan keluarga Ki Ageng Menak Simo, seorang pendekar yang juga pengusaha sejati.
Ikrar Sang Pendekar (107): Urusan Mudah
Oleh: Tri Handoyo Desa terpencil itu digemparkan dengan penemuan mayat seorang perempuan tua. Kondisi mayat tampak masih utuh, meskipun sebagian jazad nyaris dimangsa anjing liar. Mayat ditemukan oleh Wagino, seorang penggembala kambing yang biasa melewati ladang tersebut. Awalnya ia melihat ada sejumlah anjing liar mengerubungi sesuatu. Curiga dengan hal itu, ia langsung mendatangi dan akhirnya melihat adanya sosok mayat.
Ikrar sang Pendekar (106), Menyisahkan Kesunyian
Oleh: Tri Handoyo Semua saudara Raden Suncoko dan anak-anak mereka yang telah dewasa telah berkumpul sejak pagi tadi. "Orang-orang tua kita adalah manusia yang gagah perkasa!" Seru Raden Suncoko membakar semangat, "Darah yang sama mengalir juga dalam urat nadi kita. Kita tidak menghendaki terjadinya pertumpahan darah, tapi saat ini kita tidak dalam keadaan damai! Harta kita telah dirampas dengan sewenang-wenang oleh para bajingan terkutuk!" Kemarahan keluarga besar itu pun menggelegak.
Ikrar Sang Pendekar (105): Pengingkaran Terakbar
Oleh: Tri Handoyo Di ruang keluarga sebuah bangunan yang dikenal dengan nama Puri Naga. Huru-hara akibat dua gadis kecil tengah berlangsung. Benda-benda mainan kayu terserak, ruang yang lebih mirip dengan sebuah arena perang itu berantakan akibat sebuah pertarungan dasyat. Rupanya Arum sudah bosan mengingatkan kedua putrinya itu.
Ikrar Sang Pendekar (103): Junjung Derajat
Oleh: Tri Handoyo Begitu pembantu dan cucunya meninggalkan lembah Gunung Pegat, Kyai Wotwesi mulai merasakan luka hatinya yang begitu pedih, melebihi luka-luka di tubuhnya. Pengkhianatan dan informasi palsu yang menjerumuskannya terasa menyakitkan. Putri yang sangat dicintainya gugur. Seluruh kekayaan, pengikut dan pasukan kademangan yang telah dirintis dengan susah payah telah hancur lebur. "Maaf Mbah Kyai, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Seorang anak buah memberanikan diri bertanya.
Ikrar Sang Pendekar (102): Pusaka Pring Kuning
Oleh: Tri Handoyo Kebo Klebat mencintai ayahnya, Ki Kebo Dedet. Akan tetapi, lelaki yang sangat dikaguminya itu pergi ketika ia masih terlalu kecil. Klebat tak pernah mengerti mengapa ayahnya meninggalkannya, dan apapun alasannya soal itu tidak akan banyak berarti. Kubangan masa kelam yang kerap menenggelamkan gairah hidupnya, dan hanya kerinduan untuk mencari tahu ayahnya itulah yang membuat ia punya alasan untuk bertahan melanjutkan pengembaraan di muka bumi.
Ikrar Sang Pendekar (101): Para Petarung Ulung
Oleh: Tri Handoyo Warung ayam bakar yang paling tua dan terkenal di Candimuyo, Jombang. Didirikan sekitar 100 tahun yang lalu, bertepatan dengan saat Majapahit menghadiahi Raden Fatah sebuah tanah perdikan di wilayah hutan Glagahwangi. Di pagi yang cerah. Seorang pemuda gagah perkasa memasuki warung legendaris itu. Ia disambut bapak pemilik warung, seorang lelaki santun yang mewarisi warung itu dari orang tuanya. "Selamat datang, Tuan pendekar!" sapa pemilik warung dengan senyum hangat.
Ikrar Sang Pendekar (100): Juragan Tidak Mungkin
Oleh: Tri Handoyo Atas bantuan Gandung Si Raja Belut, Lintang yang membawa sepuluh murid terbaiknya, berhasil menemukan bukit yang dijadikan sarang 'Wong Langit'. "Kalian jaga di sini! Jika ada yang turun, itu bagian kalian!" Setelah berkata demikian, lelaki yang dijuluki Pendekar Pedang Akhirat itu lalu berlari menaiki jalan berbatu. Tampaknya ia tidak menggunakan keseimbangan tubuh dan tanpa memperhatikan bebatuan yang dipanjatnya. Padahal tebing itu berlumut dan licin sekali.
Ikrar sang Pendekar (99), Tersungkur Akibat Tinggi Hati
Oleh: Tri Handoyo Waktu menjelang adzan isya' dikumandangkan, Ki Wiryo datang menyerahkan pundi berisi kepingan uang emas di depan sekumpulan panitia pembangunan masjid. Sekantung emas itu ia kumpulkan dari para anggota perkumpulan 'Wong Langit', hasil dari merampok rumah Roro Ajeng.
Ikrar Sang Pendekar (98): Suasana Horor Meneror
Oleh: Tri Handoyo Sebagian anak buah 'Wong Langit' menggotong Pendekar Cebol yang tak berdaya dengan perut robek. Sebagian lagi bergantian menggotong mayat Warsito. Awalnya Ki Wiryo ingin jenazah anaknya itu dibawa pulang ke rumah dan dimakamkan di kampung, tapi semua anggota Wong Langit tidak setuju. Itu dianggap bisa menimbulkan kecurigaan masyarakat dan bakal membongkar kedok mereka.
Ikrar Sang Pendekar (97): Pendekar Sejati
Oleh: Tri Handoyo "Sebenarnya Raden Ghandi saat ini masih sakit!" bisik Gandung alias Ghozali Si Raja Belut kepada Manggala putra Mahesa. Ia jelas berniat mengadu domba dalam kedok memberikan motivasi. "Tengkuknya masih lebam, jadi tenaganya pasti masih lemah! Hari ini kamu pasti menang, Gala!" Ghandi sedang berhadapan dengan Manggala yang usianya setahun di bawahnya.
Ikrar Sang Pendekar (96): Dari Hati Ke Hati
Oleh: Tri Handoyo Salah seorang anak buah Arya Dewandaru disusupkan untuk menjadi karyawan di Padepokan Benteng Nusa. Misi rahasia penyusupan dengan menggunakan orang asli Jombang sendiri. Namanya adalah Gandung. Lebih mudah lima tahun dibanding Dewan, tapi ia memang pernah mendapat latihan khusus untuk menjadi seorang penyusup. Keahliannya adalah menggali informasi, menciptakan dan memengaruhi opini orang demi kepentingan kelompoknya.
Ikrar Sang Pendekar (95): Perkumpulan Wong Langit
Oleh: Tri Handoyo "Ke mana mainnya anak itu?" gumam Lintang Kejora sambil mengarahkan pandangan ke pintu gerbang padepokan. Ia sudah dua jam lebih menunda keberangkatan untuk pergi memenuhi undangan seorang tumenggung di Mojokerto. Orang yang disuruh mencari sudah satu jam yang lalu kembali dan mengatakan bahwa Raden Ahmad Ghandi tidak ada di langgar. Teman-temannya sudah pulang ke rumah mereka masing-masing dan mengaku tidak tahu ke mana perginya Ghandi.
Ikrar Sang Pendekar (94): Pemutarbalikan Fakta
Oleh: Tri Handoyo Saat penjahat dengan sejuta tipu muslihat itu hendak memanggul tubuh kecil Ghandi, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara aneh. "Hei Joko Petir, kau bedebah yang benar-benar tidak punya malu!" Suara berat yang muncul entah dari mana itu memecah keheningan. "Semakin tua bangka semakin busuk juga hatimu!" Sebelum lenyap rasa kagetnya, tiba-tiba tampak seorang lelaki muda muncul dari balik pohon. Lelaki itu berjalan tenang menghampirinya.
Ikrar Sang Pendekar (93): Sejuta Tipu Muslihat
Oleh: Tri Handoyo Subuh sudah lama lewat, malah matahari sudah mengintip di ufuk timur. Bebaslah dunia dari cengkraman kelamnya malam yang melenakan. Namun belum banyak orang yang beranjak keluar dari rumah mereka. Udara pagi itu memang terasa lebih dingin dari biasanya. Warung ayam bakar di seberang jalan Langgar Al Akbar belum buka, kendati pun demikian, sudah ada beberapa orang yang datang untuk mengantri. Mereka duduk-duduk di depan halaman warung sambil berbincang-bincang.
Ikrar Sang Pendekar (92): Hukum Rimba
Oleh: Tri Handoyo Setelah aman dari Si Iblis Betina, Arum mendengar suara pedang terjatuh. Ia melihat Lastri roboh di tangga. "Lastri!" Ia segera menghampiri murid wanita terbaiknya yang jelas tidak mampu lagi menyembunyikan nyeri akibat luka di lutut dan pundak kirinya. "Aku tidak apa-apa, Mbak!" seru Lastri berusaha tersenyum, tapi yang tergambar di bibirnya adalah meringis sakit. Ia tadi memang merasa wajib untuk melindungi Guru Arum yang sedang hamil.
Ikrar Sang Pendekar (91): Kualat
Oleh: Tri Handoyo Semilir angin menyelinap melalui cela kelambu jendela yang terbuka. Sorot cahaya rembulan yang turut menerobos jatuh di ujung ranjang. Malam yang cukup menyenangkan. Begitu damai. Arum tengah rebah di samping tubuh Lintang, di balik selimut yang hangat. Mereka berdua baru saja mengarungi badai percintaan yang dasyat, dan setelah hampir setengah jam, sisa-sisa badai kenikmatan itu masih menjalari seluruh tubuh mereka.
Ikrar Sang Pendekar (90): Prasasti Yang Terpatri
Oleh: Tri Handoyo "Kalian bajingan pengecut!" teriak Mahesa lantang, dan goloknya sangat sibuk menangkis serangan yang makin menggila. 'Mati atau menyerah gak ada bedanya,' pikirnya sambil terus memberikan perlawanan. Kematian tinggal menunggu waktu. Di saat situasi sangat genting, tiba-tiba ada bayangan berkelebat menyerbu ke arena pertempuran dan menyerang para pengeroyok. Gerakannya gesit luar biasa, sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata.
Ikrar Sang Pendekar (89): Melanggar Ikrar
Oleh: Tri Handoyo Mengagumkan sekali gerakan Mahesa. Tubuhnya tak pernah terbabat oleh delapan golok. Seperti sebuah bayang-bayang saja, atau lebih tepat seperti angin, selalu berhasil menyelinap di antara kilatan senjata sambil mengirim serangan balasan yang cukup melumpuhkan. Pemuda itu dengan cepat menggeser kaki dan tangannya menangkis sebuah golok yang menyambar lewat di pinggir wajahnya.
Ikrar Sang Pendekar (88): Robohnya Benteng
Oleh: Tri Handoyo Perlahan matahari tenggelam, seiring semburat jingga yang perlahan merangkak meninggalkan langit ufuk barat. Lastri dan Mahesa dengan menjinjing bungkusan pakaian mereka masing-masing, sudah siap melangkahkan kaki meninggalkan padepokan, hanya tinggal berpamitan kepada Guru Lintang. "Assalamualaikum, Guru!" ujar Mahesa dan Lastri. Mereka berdua melihat Lintang sedang membaca sebuah kitab di joglo taman. Lintang berlagak sedikit kaget, tapi kemudian tersenyum ceria.
Ikrar Sang Pendekar (87): Belajar Beradab
Oleh: Tri Handoyo "Aksi balasan Laskar Rimba kembali memakan korban," kata Ki Demang menahan murka. Ia baru saja menerima kabar bahwa Kedua Pendekar Jeliteng ditemukan tergeletak tak bernyawa di pinggiran hutan dekat pesanggrahan.
Ikrar Sang Pendekar (86): Demi Harga Diri
Oleh: Tri Handoyo Ki Demang Wiryo sudah mencurigai bahwa sisa-sisa Laskar Rimba sedang menyusun kekuatan untuk melakukan balas dendam. "Mereka sering mengadakan pertemuan rahasia dengan Ki Marijan, Ki Tejo dan Ki Entong di Padepokan Kapak Emas!" ujarnya dengan mengaku mendapat laporan dari seorang 'tilik sandi' yang ia susupkan ke padepokan tersebut. Tentu saja, semua orang berpendapat pertemuan itu adalah hal yang lumrah, karena mereka berada dalam satu organisasi Ikatan Pendekar Jawa.
Ikrar Sang Pendekar (85): Membakar Matahari
Oleh: Tri Handoyo Cak Saidi, 'Si Tilik Sandi' Ki Demang yang disusupkan di Padepokan Benteng Nusa, menemui Lastri untuk menceritakan mengenai berita yang belakangan sedang ramai dibicarakan orang.
Ikrar Sang Pendekar (84): Menagih Hutang
Oleh: Tri Handoyo Lastri ditemani oleh Mahesa, pulang ke kampung halamannya. Kampung terpencil yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan. Hujan tangis mewarnai pertemuan itu. Apalagi setelah Lastri tahu bahwa ayahnya telah meninggal dunia, akibat sakit parah setelah dikeroyok dan juga karena menanggung rasa bersalah. Lastri menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menutupi muka.
Ikrar Sang Pendekar (83): Pertemuan Dua Hati
Oleh: Tri Handoyo Mahesa Wijaya adalah salah seorang guru yang menduduki posisi tertinggi kedua di Padepokan Benteng Nusa. Tingkat kepandaiannya memang masih jauh di bawah Guru Arum Naga. Siang itu ia tengah menuturkan sebuah pengalamannya di hadapan murid-murid padepokan, bahwa pencak silat telah mengantarkannya menjajaki dunia kompetisi dan telah meraih beragam kejuaraan antar perguruan silat.
Ikrar sang Pendekar (82), Tak Ada yang Tak Berakhir
Oleh: Tri Handoyo Memang benar, bahwa tidak ada kehidupan tanpa pergerakan. Tapi bukan berarti setiap pergerakan itu pasti menghidupkan. Karena ada yang justru mendatangkan kematian, maka mengontrol dan mengendalikan gerakan merupakan strategi dan seni kehidupan. Sebuah kemenangan kadang bisa terlihat sejak di awal pertempuran, sehingga orang bijak tak akan menempuh pertempuran jika suatu kemenangan mustahil diraih.
Ikrar Sang Pendekar (81): Di Atas Langit Ada Langit
Oleh: Tri Handoyo Setelah melerai perkelahian antara orang-orang Ki Demang yang dikeroyok oleh Laskar Rimba, Lintang dan Arum melanjutkan perjalanan. Mereka melalui hutan yang lebat. Setelah berjalan melewati tempat yang sunyi, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai. Pemandangan di sekelilingnya indah, dan hawa udaranya  sangat sejuk.
Ikrar Sang Pendekar (80): Air Tuba Dibalas Air Susu
Oleh: Tri Handoyo Dengan ilmu meringankan tubuh yang lumayan tinggi, sepasang pendekar itu jelas tidak mengalami kesulitan berarti untuk menuruni Bukit Lintah. Dalam waktu singkat, mereka sampai di kaki bukit, di mana mereka menempatkan dokar dan kudanya. Saat beristirahat sejenak sambil menikmati sebuah pemandangan yang indah, Lintang menurunkan buntalan yang dipanggulnya dan Arum langsung mencari bungkusan jajanan dan kantung minuman di dalamnya.
Ikrar Sang Pendekar (79): Tempat Terangker Adalah Tempat Teraman
Oleh: Tri Handoyo Ki Demang berkata kepada Ki Panji, "Tak perlu melaporkan hal ini. Aku sudah tahu. Ketahuilah bahwa Si Iblis Betina juga menyaksikan pertempuran tadi, dan saya mendengar semuanya darinya!" Panji terkejut, karena ia tadi juga berada di lokasi keributan yang merupakan wilayahnya itu. Akan tetapi ia tidak melihat kehadiran Si Iblis Betina. Terpaksa ia memalingkan muka memandang dan ia terkejut sekali melihat sinar mata nenek itu penuh selidik menatapnya.
Ikrar Sang Pendekar (78): Memancing Keributan
Oleh: Tri Handoyo Sang surya baru saja menyapa, menyibak kegelapan dengan cahayanya yang ramah. Puluhan pekerja dengan dibantu murid-murid perguruan sudah berkumpul dan mulai bekerja mengangkuti batu-batu untuk pembuatan pondasi. Arum dan Lintang tampak terlibat mengatur pekerjaan di lokasi yang akan dibangun Puri Naga Nusantara. Sudah seminggu pekerjaan pembangunan itu dimulai.
Ikrar Sang Pendekar (77): Perang Tenaga Batin
Oleh: Tri Handoyo Ketika tidak setuju dengan Prabu Bre Kertabhumi, Ki Ageng Kutu menyatakan diri menjadi oposisi. Kebo Dedet langsung menyatakan mendukungnya. Kebo Dedet adalah seorang menteri yang tersingkir dari kedudukannya karena kejahatan korupsinya terbongkar. Menteri yang membelot ke kubu Ki Ageng Kutu itu kemudian gencar membangun jaringan dengan menyebarkan fitnah dan adu domba. Dia sebetulnya hanya memanfaatkan Ki Ageng Kutu demi ambisi pribadinya terhadap kekuasaan.
Ikrar Sang Pendekar (76): Berita Bahagia
Oleh: Tri Handoyo Si Iblis Betina masih terus keheranan dengan kemajuan pesat ilmu silat Arum. Nama asli Iblis Betina adalah Syiahni. Dia adalah istri mendiang Ki Lindu yang dulu menculik bayi Lintang Kejora. Ketika rumah mereka di tengah hutan diserbu prajurit Majapahit, Syiahni berhasil meloloskan diri. Ia dikejar belasan prajurit, dan tertangkap jauh dari rumahnya. Agar tidak dibunuh, dia kemudian melucuti pakaiannya dan menyerahkan tubuhnya kepada para prajurit. Siasat itu berhasil.
Ikrar Sang Pendekar (75): Melabrak Kandang Macan
Oleh: Tri Handoyo Waktu berjalan seolah begitu lambat. Di saat-saat seperti itu ia teringat Lintang, manusia terpolos dan apa adanya di muka bumi. Akan tetapi kepolosannya itu yang justru telah menawan hatinya. Lewat tengah malam, Arum yang sedang bermeditasi di dalam kamar mendengar langkah kaki ringan di atas genting.
Show More
loading
Actions
Is this you?
As a journalist, you can create a free Muck Rack account to customize your profile, list your contact preferences, and upload a portfolio of your best work.Get in touch with Tri
Contact Tri, search articles and posts on X, monitor coverage, and track replies from one place.
Learn more about Muck Rack